Profil Aksi Indonesia Muda

Posted by Unknown on 01.21 with No comments
Aksi Indonesia Muda (AIM) merupakan sebuah organisasi sosial nirlaba (NGO) atau komunitas yang berdiri sejak tanggal 17 November 2012, terdiri dari para pemuda (i) dan berpusat di kota Makassar. Komunitas ini fokus bergerak dalam mengupayakan solusi kreatif atas penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat miskin/marginal.
Pada mulanya, organisasi ini lahir sebagai bentuk keprihatinan anak muda terhadap maraknya pengemis di Kota Makassar dan makin meningkatnya angka kemiskinan. Sehingga kedepannya komunitas ini diharapkan mampu menjadi mesin yang massif dalam melakukan pengentasan kemiskinan terkhusus di kota Makassar dan se-Indonesia pada umumnya.
Dalam jangka waktu kurang dari dua tahun akhirnya, AIM berhasil membuka cabang dibeberapa kota di Indonesia dan akan terus bergerak membangun cabang AIM dikota-kota lainnya.
Sejak terbentuk (2012) sampai saat ini, kami fokus membantu Masyarakat di Jalan Dangko Lr. Jongaya Kec. Tamalate Kel. Ballangbaru (Kampung Kusta).
Kenapa Project Sosial kami saat ini di Jln. Dangko???
1. Daerah disana merupakan Perkampungan Kusta yg terisolir dari masyarakat luar. Sekaligus termarjinalkan oleh seluruh elemen masyarakat pada umumnya.
2. Sebagian besar warga Dangko berprofesi sebagai pengemis dan juru parkir. Sehingga daerah ini terkenal sebagai daerah penghasil pengemis di Kota Makassar. Kurang Lebih 60 % pengemis yang ada di Makassar berasal dari Jln. Dangko.
3. Banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena sibuk membantu orang tua mencari uang dengan berprofesi sebagai pemulung, buruh cuci, pengamen jalanan dsb.
4.Minimnya keterampilan berwirausaha Masyarakat akibat keterbatasan ‘akses’
5. Karena tempat ini terisi oleh masyarakat Eks Kusta yg secara psikologis, membuat mereka gampang berkonflik dengan masyarakat luar.
Dengan demikian, kami putuskan untuk turut serta bersumbangsih bagi daerah ini tidak lain, karena minimnya perhatian dari masyarakat luar terhadap persoalan yg menurut kami sangat urgent dan mendesak untuk segera ditangani.
Jumlah warga disana mencapai 600 Kepala Keluarga (KK) dengan total keseluruhan mencapai 2300-an orang yang sampai pada hari ini masih bingung mau bekerja sebagai apa untuk menafkahi keluarganya. Tidak heran, jika akhirnya mereka berputus asa dan berpasrah menggantungkan hidupnya dengan terlunta-lanta dijalanan.
Apa manfaat yang sudah AIM lakukan?
Dampak yang paling signifikan ditimbulkan melalui program pemberdayaamn masyarakat yang AIM lakukan ialah membantu masyarakat di perkampungan disabilitas eks kusta ini mendapatkan pekerjaan yang bisa menghasilkan tanpa harus menjadi pengemis. Sejak 2 tahun ini, secara keseluruhan kami baru bisa memberdayakan 55 orang untuk ikut dalam usaha-usaha yang telah kami bangun.
Kami berhasil membangun usaha Industri Keset Kaki, Lampu Hias dan Bros yang hingga kini telah masuk dipasaran Lokal dan toko-toko modern seperti Carrefour dan Karlink.
 Dari aspek sosial, dulunya masyarakat diperkampungan ini memiliki tingkat kecemburuan sosial yang sangat tinggi, individualis dan sangat rentan mengalami konflik. Hal tersebut terjadi karena secara psikologis warga disana termarjinalkan dan cenderung dihindari oleh masyarakat luar pada umumnya.
Kesan yang pertama kali timbul ketika orang mengatakan ‘kusta’ yakni mudah menular dan sangat berbahaya. Sehingga warga diperkampungan ini mendapatkan stigma buruk dan diskriminasi yang pada akhirnya membuat mereka kehilangan akses kemana-mana, termasuk mencari pekerjaan dan mendapat perlakuan yang sama. Mereka putus asa dan kehilangan harapan sama sekali untuk dapat hidup sejahtera, apalagi mau berwirausaha secara mandiri.
Kami mencoba membangun trend/budaya positif diperkampungan ini dengan memberikan sampel kepada masyarakat lainnya (warga dikampung ini) melalui para pekerja usaha-usaha kami yang dengan tekun bekerja dan mulai memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus menjadi pengemis. Besar harapan kami agar kedepannya semakin banyak para pengemis yang kami rekrut untuk menjadi pengusaha didalam perkampungan ini.
Kemudian, manfaat lain dari usaha yang kami bangun ini ternyata mampu meningkatkan rasa kekeluargaan diantara para pekerja sebab setiap hari mereka bertemu ditempat kerja dan mulai berproduksi sambil sesekali bercerita, bergurau dan bertukar makanan dari rumah masing-masing ditempat produksi.
Bahkan usaha-usaha yang kami bangun ini kerap kali diundang untuk mengikuti berbagai event pameran, diundang sebagai pembicara seminar dsb, sehingga melalui usaha kerajinan tangan ini pula mulai banyak orang-orang luar yang datang melihat langsung kreasi masyarakat di perkampungan ini.
Adapun tinjauan dari aspek lingkungannya, didalam usaha keset kaki yang kami bangun sangat memperhatikan unsur keramahan lingkungan (green production). Sebab usaha ini memiliki bahan baku dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai lagi yakni sisa guntingan kain perca kaos. 
Kami bekerjasama dengan beberapa konveksi-konveksi besar yang ada di Makassar untuk mengambil sisa kain guntingannya/perca kaos lalu diangkut ke Perkampungan ini dan dijadikan sebagai bahan dasar utama dalam pembuatan keset kaki.
Melalui aneka ragam usaha kerajinan tangan ini, kami berharap bisa menjadi ‘pilot project’ agar makin banyak masyarakat yang peduli dan mau beraksi ditengah masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan.



Sumber Berita: www.wartasulsel.com


http://wartasulsel.com/berita-profil-aksi-indonesia-muda.html#ixzz3tPBHXiMJ
Categories: